Puasa di Alkitab | 2 | Maksud dan Tujuan
II. Maksud dan Tujuan
A. Maksud1. Mencari TUHAN
Mencari TUHAN (2 Taw 20:3) dalam keseluruhan kesaksian Alkitab tentang puasa menunjukkan arti memberi diri, ruang, dan waktu sepenuh-penuhnya khusus untuk ada di hadapan TUHAN, mendekat kepada TUHAN, beribadah dengan doa dan puasa guna bertemu TUHAN secara pribadi atau secara bersama-sama.
Pada umumnya, tidak aktivitas lain yang dilakukan (Im 16:29) selain berdoa dan berpuasa.
Jika pada Hari Raya Pendamaian disebut “Hari perhentian penuh” (Im 16:31; 23:32), maka dapat dikatakan, bahwa masa sedang berpuasa menjadi “masa perhentian penuh”. Masa berpuasa menjadi waktu khusus “hanya saya dan Tuhan” atau “hanya kami dan Tuhan”. Entah 1 hari (umum), 3 hari (Ester 4:16), 7 hari (1 Sam 31:13; 2 Sam 12:18), 3 minggu (Dan 10:3) , 40 hari 40 malam (Kel 34:28; Ul 9:9; Mat 4:2), semalam-malaman (Dan 6:19), siang malam (Luk 2:37), hingga senja hari (Hak 20:26) ataupun beberapa hari (Neh 1:4), pada umumnya menunjukkan bahwa pencarian akan TUHAN itu adalah pemberian hidup, diri, waktu dan ruang sepenuhnya untuk TUHAN.
2. Merendahkan diri di hadapan TUHAN.
Merendahkan diri di hadapan TUHAN (Im 16:29,31; 23:27,29,32; Bil 29:7; 30:13; Ezr 8:21; Yes 58:3) menyatakan ketidak-”ada”-an manusia, ketidakbisaan, ketidaksanggupan, ketidakmampuan, ketidakberdayaan, kekosongan, atau kehampaan manusia TANPA TUHAN.
Semua yang dimiliki manusia, semua yang disandang, yang dipakai, yang dikecap adalah pemberian TUHAN. Status, kedudukan, posisi, jabatan tak mungkin tanpa TUHAN. Sehat, kuat, senang, bahagia, sukacita, sejahtera, dsb adalah anugerah TUHAN.
Merendahkan diri di hadapan TUHAN hendak menyatakan, bahwa TANPA TUHAN, MANUSIA NOL. Manusia adalah DEBU semata.
Oleh karena itu, simbol-simbol perendahan diri, yang menyertai aksi berpuasa, umumnya adalah pengenaan kain kabung (1 Raj 21:27; Neh 9:1; Est 4:3; Dan 9:3), abu/tanah (Neh 9:1; Est 4:3; Dan 9:3), dan berbaring di tanah (2 Sam 12:16).
Demikianlah merendahkan diri di hadapan TUHAN dengan berpuasa adalah memberi tempat yang sepatutnya bagi TUHAN Allah di tempat Yang Mahtinggi guna memberi ruang yang seluas-luasnya bagi kuasa-Nya di dalam hidup orang yang berpuasa.
Berpuasa dengan merendahkan diri bagaikan membawa bejana yang kosong untuk diisi dengan kasih dan kuasa TUHAN, bahwa apapun yang dikerjakan manusia tidak akan berhasil tanpa PERTOLONGAN TUHAN.
3. Menyiksa diri di hadapan TUHAN.
“Aku menyiksa diriku dengan berpuasa” (Mzm 35:13). Perbuatan dengan sengaja tidak makan dan tidak minum adalah bentuk penyiksaan diri secara jasmani.
Pemazmur menggambarkan derita jasmani karena berpuasa: Aku meremukkan diriku dengan berpuasa. (Mzm 69:11a) >>> Lututku melentuk oleh sebab berpuasa, dan badanku menjadi kurus, habis lemaknya. (Mzm 109:24)
Aksi menyiksa diri secara jasmani adalah upaya manusia untuk “melunakkan hati TUHAN”. Coba Anda perhatikan ayat-ayat di bawah ini:
Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: "Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat? (Kel 32:11) >>> Dalam keadaan yang terdesak ini, ia berusaha melunakkan hati TUHAN, Allahnya; ia sangat merendahkan diri di hadapan Allah nenek moyangnya. (2 Taw 33:12) >>> Adapun penduduk Betel telah mengutus Sarezer dan Regem-Melekh serta orang-orangnya untuk melunakkan hati TUHAN. (Zak 7:2) >>> Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati TUHAN dan mencari TUHAN semesta alam! Kami pun akan pergi! (Zak 8:21) >>> Jadi banyak bangsa dan suku-suku bangsa yang kuat akan datang mencari TUHAN semesta alam di Yerusalem dan melunakkan hati TUHAN." (Zak 8:22) >>> Maka sekarang: "Cobalah melunakkan hati Allah, supaya Ia mengasihani kita!" (Mal 1:9)
Pengharapan yang dipertunjukkan kepada TUHAN dari aksi menyiksa diri adalah jelas, yakni menarik belas kasihan TUHAN atau “membuat TUHAN jadi kasihan”.
Sebagaimana Daud berharap demikian: Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. (2 Sam 12:22)
Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, TUHAN Allah Pencipta, adalah Pribadi yang disiplin dan tegas. Ketegasan TUHAN nyata pada penerapan sanksi-sanksi hukum atas pelanggaran umat akan perintah dan ketetapan-Nya.
Akan tetapi, TUHAN Allah yang dispilin dan tegas ini juga adalah KASIH. Kepastian bahwa “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8,16) nyata dan tak terbantahkan dalam kehidupan umat TUHAN. Dan, Itu terpatri jelas dalam kematian Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, di atas kayu salib.
Allah itu penuh belas kasihan. Tak kuat hati mendengar rintihan umat-Nya. >>> TUHAN berbelas kasihan mendengar rintihan mereka karena orang-orang yang mendesak dan menindas mereka. (Hak 2:18b) >>> Ia belas kasihan kepada umat-Nya. (Yl 2:18b). Belas kasihan Allah nyata di dalam Yesus Kristus:
Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Mat 9:36; Mrk 6:34) >>> Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. (Mat 14:14) >>> Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan." (Mat 15:32; Mrk 8:2) >>> Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia. (Mat 20:34) >>> Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." (Mrk 1:41) >>> Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!" (Luk 7:13) >>> Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. (Luk 10:33) >>> Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (Luk 10:37) >>> Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. (Luk 15:20)
Namun, satu hal yang harus dicatat, bahwa penyiksaan diri dengan berpuasa guna membuat TUHAN menjadi kasihan harus disertai dengan kesadaran, pengakuan, dan penyesalan dosa. >>> 18:7 Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan mencabut, merobohkan dan membinasakannya. 18:8 Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka. (Yer)
Ketika umat-Nya menunjukkan aksi yang sungguh-sungguh sebagai pernyataan mencari TUHAN, merendahkan diri di hadapan Dia, mengaku dosa, dan menyesalinya disertai dengan tindakan penyiksaan diri di hadapan TUHAN, maka belas kasihan TUHAN berbalik dari murka-Nya atas umat-Nya.
Mari lihat pernyataan TUHAN Allah atas tindakan berpuasa Raja Ahab: "Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya." (1 Raj 21:29)
Hati TUHAN berbalik dari murka kepada kasih karunia karena Ia mendapati kesungguhan hati yang mencari Dia, merendahkan diri, dan melengkapi itu dengan menyiksa diri dengan tidak makan dan tidak minum.
Oleh karena itu “menyiksa diri” diletakkan pada bagian terakhir dari maksud berpuasa. Karena, menyiksa diri tanpa mencari TUHAN dan tanpa merendahkan diri kepada-Nya hanyalah suatu puasa di hadapan manusia (puasa tradisi atau puasa kesehatan). Itu tidak tertuju langsung untuk menyentuh hati TUHAN.
Dengan perkataan lain, adalah tidak mungkin berpuasa di hadapan TUHAN (= tidak makan dan tidak minum di hadapan TUHAN), tanpa ibadah (= mencari TUHAN) dan tanpa merendahkan diri (= pengosongan diri, pengakuan, dan penyesalan akan dosa).
B. Tujuan
Dari catatan aksi berpuasa di Alkitab, kita menemukan tujuan yang hendak dicapai:
- Untuk kesembuhan dari sakit (2 Sam 12:16,22; Mzm 35:13
- Untuk beroleh pengampunan Allah dengan pengakuan dosa, penyesalan dan pertobatan (Imamat 16:29,31; 23:27,29,32; Bil 28:7; 1 Sam 7:6; Yer 36:9; Dan 9:3).
- Untuk beroleh kelepasan dari hukuman Allah (1 Raj 21:27,29; Yun 3:5)
- Untuk menghadapi hukuman Allah (Yl 1:14; 2:12,14)
- Untuk mengingat hukuman-hukuman Allah sebagai peringatan (Za 7:5; 8:19)
- Untuk meminta pertolongan Tuhan (2 Taw 20:3-4; 1 Sam 7:6; Est 4:16)
- Untuk mengingat pertolongan Tuhan = berpuasa untuk tidak melupakan pertolongan Tuhan (Est 9:31)
- Untuk meminta petunjuk Tuhan (Hak 20:26)
- Untuk mengajukan permohonan (Dan 9:3)
- Untuk meminta pengawalan dan keselamatan dari Tuhan (Ezr 8:21,23)
- Untuk menyatakan kesedihan yang mendalam (Dan 6:19)
- Untuk menyatakan dukacita kematian (I Sam 31:13; II Sam 1:12; I Taw 10:12), dukacita kabar buruk (Neh 21:4), dukacita akan ancaman (Est 4:3)
- Untuk mendapat dukungan niat (1 Raj 21:9,12 – catatan: di ayat ini niat yang dipunyai Ahab adalah jahat di mata TUHAN. Dan, jelas, tidak memberi hasil, malah menjadi bumerang bagi diri Ahab sendiri.)
- Untuk mengusir kuasa kegelapan (Mat 17:21)
- Untuk menjadi bagian dari hidup (Mat 9:14,15; Mrk 2:18; 20; Luk 2:37; 5:33,35; 18:12; Kis 13:2; 27:9; 2 Kor 6:5; 11:27)
- Untuk beroleh kesiapan hati dan kesiapan diri sepenuhnya dalam rangka mengemban dan mengerjakan tanggung jawab pelayanan yang dipercayakan Allah kepadanya. -- Musa berpuasa untuk menerima 10 Hukum Tuhan yang dipercayakan TUHAN kepadanya untuk dititahkan dan diterapkan kepada umat-Nya (Kel 34:28; Ul 9:9). Yesus berpuasa untuk memulai kerja penyelamatan dunia yang dipercayakan Bapa-Nya kepada-Nya (Mat 4:2). Pribadi-pribadi yang akan menerima peneguhan jabatan gerejawi berpuasa sebelum peneguhan itu diberlakukan atas mereka (Kis 13:3; 14:23).
- Untuk kesiapan hati dan kesiapan diri sepenuhnya serta pengosongan diri guna mengalirkan urapan Allah atas orang-orang yang akan diteguhkan menjadi pelayan Tuhan. Rasul-rasul berpuasa sebelum meneguhkan (Kis 13:3; 14:23).-- [Bersambung ke bagian 3]
Posting Komentar untuk "Puasa di Alkitab | 2 | Maksud dan Tujuan"